Maret 20, 2017

Luar Biasa, Presiden Saja Tolak Gunakan Heli dan Lebih Memilih Mobil, Tapi Kepala Daerah Malah Milih Gunakan Heli

FOTO RAME-RAME. Gubernur Cornelis (ketiga dari kiri) dan Presiden Joko Widodo (keempat dari kiri) berdiri bersisian usai meresmikan PLBN Terpadu Nanga Badau, Kamis (16/3). Semua rombongan ikut berfoto bersama. Humas Pemprov Kalbar for Rakyat Kalbar

Agen Sbobet - Presiden Joko Widodo bukanlah tipe pemimpin yang suka dilayani atau pemimpin yang suka menikmati fasilitas yang diberikan untuk mempermudah perjalanan kunjungan kerjanya. Tidak sedikit rakyat yang melihat sendiri dan menyebarkan ke media sosial bagaimana Jokowi beberapa kali ikut dalam antrian mobil. Hal yang sudah dilakukannya sejak menjadi Walikota Solo dan juga Gubernur DKI Jakarta.

Jokowi memang sebisa mungkin tidak mau menjadi pusat perhatian dan tidak mau mengganggu kepentingan rakyat banyak. Semua itu sangat mungkin dimiliki seseorang ketika orang tersebut memiliki sebuah nilai dan prinsip hidup yang kuat dan tertanam dengan akhlak yang baik. Jokowi sudah terbentuk sedemikian rupa menjadi orang yang punya nilai dan prinsip mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya.

Jokowi juga bukan tipe pemimpin yang tidak bisa dan tidak mau merasakan penderitaan rakyatnya. Jokowi bahkan tidak segan memberhentikan romobongan kePresidenan demi menjumpai warga dan menyalami mereka serta beberapa kali berdiskusi. Hal ini pernah terjadi saat Jokowi meninjau langsung lokasi longsor di Dusun Jemblungan, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

“Saat dlm perjalanan ke Banjarnegara,Presiden Jokowi mendadak #blusukan tanya ke petani (14/12/2014) ttg irigasi,pupuk dll,” tulis akun resmi setkab.go.id 

Kejadian serupa juga terjadi saat Jokowi bertolak menuju Lapangan Korem 062/Tarumanegara, Garut Kota, setelah meresmikan PLTP Kamojang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (5/7/2015). Jokowi memberhentikan rombongan tiba-tiba dan berdiskusi dengan petani cabe.

JOKOWI TOLAK GUNAKAN HELI

Dalam kunjungannya ke Kalimantan Barat, Jokowi meresmikan banyak proyek pemerintah pusat. Salah satunya adalah Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Nanga Badau. Jokowi yang awalnya sempat ditawarkan gunakan heli untuk mencapai Pos tersebut, ternyata lebih memilih menggunakan mobil.

Infrastruktur jalan sepanjang 179 Km yang buruk dari Ibukota Kabupaten Kapuas Hulu, Putussibau, menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Nanga Badau, tak menyurutkan langkah Presiden Joko Widodo untuk berkunjung. Jokowi menolak naik helikopter untuk sampai ke sana, sebab Jokowi ingin merasakan penderitaan yang dialami masyarakat Kapuas Hulu setiap menempuh perjalanan menuju border yang berbatasan dengan Lubuk Antu, Sarawak, itu.

Alhasil, Jokowi dan isterinya, Ibu Negara Iriana, yang ikut mendampingi kunjungan kerja ke Kalimantan berguncang-guncang di dalam mobil sepanjang perjalanan. Tak ayal, rombongan pun ikut juga merasakan hal yang sama. Mungkin ada juga yang dalam hatinya mengutuk..

“Ini Presiden kok ndeso, dikasih heli malah milih naik mobil. Mana jalannya jelek lagi.”

Hehehe.. Itulah memang Jokowi. Presiden ndeso. Tetapi karena ndesonya itulah dia selalu ingin merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Dan secara tidak langsung juga mengajak Gubernur Kalimantan Barat Cornelis serta rombongan ikut merasakan penderitaan rakyat yang setiap hari melewati jalan bergelombang tersebut.

Dan memang betul saja. Dalam diskusi dengan masyarakat yang ada di daerah perbatasan, Jokowi mendapatkan keluhan akan infrastruktur jalan yang masih buruk dan belum semua akses terbukan dengan baik. Jokowi pun langsung meminta jawaban kepada Menteri PU-PR, kapan pembangunan jalan paralel perbatasan tersebut dimulai? Menteri Basoeki pun segera menginformasikan bahwa pembangunan sedang dimulai dan akan selesai 2019.

Itulah memang karakter dan ciri khas Jokowi. TIdak bisa ditipu oleh bawahan yang bekerja tidak benar dan memberikan laporan yang manipilatif. Jokowi akan selalu mencek proyek yang telah masuk program pemerintah pusat untuk dikerjakan dengan bai sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

KEPALA DAERAH GUNAKAN HELI DAN TIDAK RASAKAN PENDERITAAN RAKYAT

Berbeda dengan Jokowi. Dua kepala daerah ini malah gunakan heli untuk melakukan kegiatan mereka. Kalau yang satu memang sudah jadi kebiasaannya, yang satu lagi malah menggunakan heli punya pemerintah untuk kegiatan kondangan. Inilah dua orang tersebut. Satu adalah Bupati Simalungun, JR Saragih, yang sehari-hari gunakan heli untuk melakukan kunjungan kedesa-desa di Kabupaten Simalungun, satu lagi Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi.


JR Saragih memang dikenal sebagai Bupati yang selalu mengandalkan helinya untuk melakukan kunjungan-kunjungan ke desa-desa. Kebiasaan inilah yang membuat JR tidak bisa merasakan penderitaan rakyat dan mungkin saja selalu dilaporkan bahwa jalanan Simalungun sudah baik, padahal kenyataannya tidak. Hal ini mudah saja dilakukan karena JR tidak pernah mengecek ke lapangan.

JR bahkan pernah diberhentikan rombongannya saat akan menghadiri acara di Nagori Tanjung Marihat, Kecamatan Ujung Padang, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Senin (3/3/2014). Warga menyampaikan tuntutan kepada JR Saragih agar segera memperbaiki jalan di kecamatan tersebut yang sudah rusak parah sejauh 5 kilometer.

“Jalan di kecamatan kami rusak total. Kami minta dia menepati janjinya. Selain harus memperbaiki jalan rusak, kami juga meminta dia memberlakukan KTP dan akta lahir gratis,” kata Sahrul Efendi, koordinator lapangan aksi.

Lain hal dengan Gubernur Sumut, Tengku Erry. Erry bahkan terang-terangan menampilka fotonya dan isterinya naik heli Basarnas untuk menghadiri kondangan anak Bupati Samosir. Dan hal itu dilakukan dengan alasan supaya bisa hadir tepat waktu. Wuih wuedan tenan.. Mau kondangan kok pakai heli Basarnas. Apa tidak tahu malu??

“Mengejar waktu, bismillah otw Samosir by Heli Basarnas,” tulis Evi Diana Sitorus, isteri Tengku, di akun facebooknya sembari memperlihatkan foto di dalam helikopter.


Sungguh sangat memalukan tingkah Gubernur Sumatera utara ini dengan isterinya. Kelakuan pemimpin bak raja dan tidak peduli serta peka terhadap kondisi rakyatnya. Bagaimana mereka mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya kalau hidup mereka jauh dari masyarakat yang mereka layani.
Jokowi sudah tunjukkan bagaimana seharusnya menjadi pejabat publik. Tidak perlu gunakan heli kalau bisa ditempuh dengan naik mobil. Apalagi ada jalan yang sudah bisa dilalui, meski harus berguncang-guncang. Tidak enaknya naik mobil berguncang itulah yang membuat para pejabat sadar bahwa rakyat menderita. Bukan gunakan heli yang tidak mampu melihat dan merasakan penderitaan rakyat.
Jokowi kembali lagi membuktikan diri dia adalah Presiden rakyat. Selalu ingin bisa turut merasakan penderitaan rakyat sehingga dia bisa tahu keinginan rakyat dan dengan segera mengatasinya. Dan bukankah memang begitulah seharusnya seorang kepala negara dan daerah??

Semoga aja teladan Jokowi ini segera menular kepada para kepala daerah lainnya. Supaya semakin banyak kepala daerah yang memahami rakyatnya dari kedekatan, bukan dari kejauhan. Sehingga amanat Undang-undang dan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat diwujudkan.
sumber : seword.com

Salam Admin Anekaberita855
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Klasemen