Maret 21, 2017

Bapak Jokowi Menang di Atas 90%, Lho Nies !!!


Mengamati pernyataan-pernyataan Anies-Sandi, kalau kita lakukan dengan serius, maka kita pasti emosi. Tetapi kalau mengamati dengan santai , maka kita pasti menjadi geli dengan pernyataan-pernyataannya yang absurd. Mereka berdua adalah pasangan calon gubernur yang amat sangat lucu dan menggelikan, logika mereka nampaknya sudah terbalik-balik hehehe…

Ini salah satu pernyataan Anies yang sengaja saya kutip:

Dalam sebuah pertandingan sepak bola, kata Anies, sebuah tim akan fokus untuk bermain baik saat yakin menang. Namun, tim yang tidak yakin bisa memenangkan pertandingan cenderung akan bermain kasar.

“Kalau pemain masih menendang bola, dia masih optimis menang. Dia mengejar bola, dia masih optimis menang. Tapi kalau nendang kaki lawan, sudah bermain kasar, tanda kepanikan mulai muncul,” ujar Anies, saat ditemui di rumahnya, di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin (20/3/2017).

Sumber


Agen Sbobet -  Secara logika yang benar, pernyataan Anies itu menyiratkan bahwa paslon yang menjadi lawan Anies-Sandilah yang dimaksud oleh Anies melalui pernyataannya tersebut. Berhubung logika berpikir paslon Anies-Sandi selalu terbalik-balik, maka pernyataan tersebut haruslah dibaca sebagai pengakuan jujur terhadap cara Anies-Sandi dan timsesnya ‘bermain’ dalam Pilkada DKI Jakarta.

Tim Anies-Sandilah tim yang tidak yakin bisa memenangkan pertandingan, maka cenderung bermain kasar. Spanduk-spanduk bernada SARA – ajakan tidak memilih cagub yang kafir (padahal sudah jelas bahwa Pak Basuki TIDAK KAFIR), ancaman tidak menshalatkan jenazah yang semasa hidupnya memilih Pak Basuki, dan ancaman/tekanan untuk memilih paslon nomor 3 jika ingin jenazah salah satu anggota keluarganya dishalatkan …. itu semua adalah tindakan-tindakan kotor dan bahkan tidak berperikemanusiaan yang sangat mungkin dilakukan oleh oknum dalam barisan tim paslon Anies-Sandi. Sangat tidak masuk akal bila BADJA sengaja membuat spanduk seperti itu untuk ‘memfitnah’ Anies-Sandi. Pemasangan spanduk-spanduk yang terorganisir dengan rapi tersebut, tentulah membutuhkan biaya yang sangat besar. ‘Uang rakyat’ yang diperoleh paslon BADJA untuk mendanai kampanyenya, tidak mungkin dipakai oleh BADJA untuk melakukan hal-hal rendah seperti itu.


Anies-Sandilah yang selalu menendang kaki lawan, sudah bermain kasar, jadi ini tanda kepanikan sudah muncul dengan nyata, bahkan cetar membahana. Tuduhan menggelikan yang dikreasikan dengan kata-kata nan santun dan tertata yang meragukan kemenangan BADJA di atas 90 perseen di 480 TPS, adalah lagi-lagi ‘SANDIwara’ yang menyesatkan. Bila hasil kerja pentahana sangat memuaskan warga, maka kemenangan di atas 90 persen adalah hal yang sangat masuk akal. Butuh bukti? Kemenangan fenomenal Jokowi-Rudy dalam pilkada kota Surakarta tahun 2010 dengan perolehan suara 90,09% secara keseluruhan. Jokowi-Rudy hanya kalah di 1 TPS dari 932 TPS yang ada. Herman Sutrisno-Ahmad Dimyati dalam pilkada kota Banjar tahun 2008 menang dengan suara 93,5 % secara keseluruhan. Tingkat partisipasi warga Banjar dalam Pilkada kota Banjar juga relatif tinggi, yaitu 76%. Jika suara total keseluruhan di atas 90%, sudah pasti ada banyak TPS yang kemenangan Jokowi-Rudy maupun Herman Sutrisno-Ahmad Dimyati yang di atas 90%, bukan?

sumber : sahabat poker
Penulis yakin sih, apabila Pak Basuki tidak difitnah dengan isu ‘penistaan agama’ oleh sahabat Anies Baswedan, yaitu si Buni Yani itu, maka BADJA menang satu putaran adalah sebuah keniscayaan. Si Buni Yani sudah ditetapkan sebagai tersangka karena caption di Facebook-nya berisi hasutan. Kita tinggal menunggu persidangannya …. entah kapan. Yang jelas Bapak Susilo Bambang Yudhoyono bisa menjadi saksi yang memberatkan si Buni Yani ini.

Sangat tepat komentar Djarot Sjaiful Hidayat terkait tudingan Anies yang meragukan kemenangan telak BADJA di banyak TPS tersebut:

“Yang lucu itu yang ngomong,” ujar Djarot di kawasan Klender, Jakarta Timur, Minggu (19/3/2017).

Djarot menolak berkomentar lebih jauh mengenai hal tersebut. Dia pun pergi menyudahi sesi wawancara.



‘Tanda-tanda kepanikan yang mulai muncul’ dalam diri paslon Anies-Sandi adalah pernyataan-pernyataan mereka yang saling bertentangan. ‘TIDAK NYAMBUNG’ itulah kata yang tepat. [saya mengutip komentar yang sering dipakai Anies untuk menanggapi jawaban paslon lain atas pertanyaannya dalam debat-debat di putaran pertama]. Dalam sapa kandidat (mulai menit ke 12:38) Sandi mengatakan bahwa Jakarta sudah lama terkotak-kotak. Sayangnya berkaitan dengan tawuran warga Manggarai, dia memberi solusi memberi pagar pembatas. Walau sementara, katanya, bagaimanapun yang diusulkan Sandi adalah membentuk ‘kotak-kotak’ baru dalam kehidupan warga Jakarta pada umumnya, dan warga Manggarai pada khususnya. Jadi bisa disimpulkan yang sebenarnya suka mengkotak-kotakkan warga Jakarta adalah Sandiaga Uno, dong hehehe…..

sumber : news.megapolitan.kompas.com
Pernyataan dan tindakan Anies-Sandi juga saling bertolak belakang. Masih dalam sapa kandidat tersebut di atas, Sandi menyatakan ingin membawa demokrasi yang sejuk, demokrasi Pancasila dalam bingkai kebhinnekaan. Tindakan adanya gerakan pemasangan spanduk yang provokatif yang menolak menshalatkan jenazah, kira-kira itu ‘pekerjaan’ siapa ya? Apakah ini sebuah tindakan ‘lempar batu sembunyi tangan’? Jika akhirnya benar-benar terjadi penolakan untuk menshalatkan jenazah … itukah yang disebut sebuah kepanikan belaka oleh Sandi??? Sungguh mengerikan!!!. Kita yang waras berusaha keras menolak, bersuara, berteriak, dan melawan tindakan tidak berperikemanusiaan tersebut …. bagi Sandi semua itu  hanya dianggap sebagai tindakan kepanikan saja. Mikir!!! Ngono yo ngono, ning ojo ngono … 

Mari kita menendang bola (bicara program)

Dari pada menendang kaki lawan, lebih baik menendang bola : berbicara mengenai program dengan jelas. Bahwa program reklamasi yang ingin dihentikan oleh Anies-Sandi adalah tindakan yang mustahil. Bahkan Presiden Jokowipun tidak mungkin mengeluarkan Keppes untuk membatalkan Keppres tahun 1995 tentang reklamasi tersebut. Ini penjelasan lengkapnya. Tulisan yang panjang dan sangat informatif, saya merekomendasikan pembaca Seword membaca link tersebut. Janji Anies-Sandi akan menghentikan proyek reklamasi itu menyiratkan 2 kemungkinan :

a.  Anis-Sandi benar-benar tidak tahu tentang aspek-aspek dalam proyek reklamasi tersebut, atau

b.  Anies-Sandi sebenarnya tahu dengan baik seluruh aspek-aspek dalam proyek reklamasi tersebut, hanya demi mendulang suara pemilih, maka mereka telah ‘membohongi’ publik bahwa akan menghentikan reklamasi. Setelah terpilih nanti, “kami akan mengikuti aturan reklamasi,” itu pernyataan Anies akhir-akhir ini tentang reklamasi. Hadeeehhh ….  

Mari kita bersama-sama menyanyi ‘Memang lidah tak bertulang …. tak terbatas kata-kata …. Tinggi gunung s’ribu janji ….’ silahkan lanjutkan bersama Anies-Sandi.
Sumber : seword.com

Salam Admin Anekaberita855
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Klasemen